Home »
Tentang Partai SRI
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia telah mengumumkan bahwa Partai SRI tidak memenuhi syarat sebagai badan hukum menurut Undang-Undang No.2 Tahun 2011 Tentang Partai Politik. Kami menerima keputusan itu. Tetapi Partai SRI juga telah mempersiapkan langkah lain untuk tetap dapat ikut sebagai partai peserta Pemilu 2014. Yang jelas, kami tidak akan menempuh jalan hukum untuk mempersoalkan keputusan Menteri Hukum dan HAM itu. Dalam waktu dekat, kami akan umumkan langkah baru itu.
Pada kesempatan ini kami juga bersimpati kepada partai-partai politik baru yang bersama-sama kami berupaya berpartisipasi dalam pembangunan politik nasional, namun belum dapat lolos menjadi Partai Politik. Kami tahu bahwa Peraturan Perundang-Undangan yang pada dasarnya dibuat oleh koalisi kepentingan-kepentingan politik besar, memang dimaksudkan untuk menghalangi terbentuknya partai politik baru. Inilah pertanda betapa demokrasi sesungguhnya telah dibajak oleh kepentingan politik oligarki yang berupaya untuk terus menguasai politik nasional, dan mengabaikan hak-hak konstitusional rakyat.
Bahkan upaya kami untuk mempersoalkan ketidakadilan itu melalui proses judicial review di Mahkamah Konstitusi, juga digagalkan oleh tekanan-tekanan kepentingan politik yang sama dan ketidakpekaan Mahkamah Konstitusi terhadap implikasi praktis Undang Undang Politik yang bersangkutan atas kebebasan berserikat. Kita seharusnya merasa malu bahwa negara-negara yang justru belum sedemokratis Indonesia seperti Burma dan Malaysia, tidak membatasi pendirian partai politik.
Untuk selanjutnya, ke depan, kami menghendaki agar partisipasi politik rakyat yang merupakan hak konstitusional paling dasar, tidak lagi dibatasi oleh aturan perundang-undangan yang diskriminatif. Biarkan proses seleksi itu berlangsung secara alamiah, sehingga penyederhanaan sistem kepartaian itu sungguh-sungguh berlangsung demokratis. Artinya, hasil Pemilulah yang harus menjadi filter penyederhanaan partai politik, bukan kepentingan monopoli segelintir oligark yang dipaksakan melalui undang-undang untuk membatasi partisipasi politik rakyat.

Partai SRI akan terus berjuang untuk membebaskan negeri ini dari dominasi dan hegemoni kekuatan-kekuatan politik koruptif dan ambisi-ambisi oligarkis dan hegemonik yang justeru sedang memerosotkan sistem demokrasi yang telah kita bangun secara susah payah selama satu dekade ini.
Kami percaya bahwa rakyat yang menghendaki perubahan, sedang bersiap untuk mengucapkan pilihan politiknya ketika tersedia partai politik baru yang secara tegas memihak pada pembaruan.
Semoga akal sehat publik dan harapan keadilan terus terpelihara sampai hari Pemilihan Umum tiba. Marilah kita kuatkan niat itu, karena kita tidak akan pernah berhenti mencintai Republik.
Jakarta, 16 Desember 2011
Partai Serikat Rakyat Independen (SRI)
D. Taufan Yoshi Erlina
Ketua Umum Sekretaris Nasional
read more

Ketua Umum Partai SRI
“Partai SRI akan mengawal Ibu Sri Mulyani menjadi calon presiden, “ kata Ketua Umum Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) Damianus Taufan kepada wartawan Gatra Haris Firdaus dan pewarta foto Karvarino. Dalam wawancara yang dimuat oleh majalah ini di edisi khusus Lebaran 2011, Taufan menegaskan bahwa belum ada figur lain di negara ini yang bisa merepresentasi nilai-nilai integritas, etika publik, kejujuran, ketegasan, dan mampu, seperti Sri Mulyani Indrawati. Berikut, isi wawancara selengkapnya:
Apa latar belakang mendirikan Partai SRI?
Partai SRI dilahirkan oleh SMI-Keadilan. SMI-Keadilan ini didirikan untuk memopulerkan gagasan tentang etika publik, clean government, dan pemimpin yang mampu. Waktu itu, figur yang dipandang mampu merepresentasikan gagasan itu adalah Ibu Sri Mulyani. Setelah berjalan beberapa lama, kami menyadari bahwa gagasan-gagasn itu harus bisa diimplementasikan.
Untuk bisa mengimplementasikan, tentu dibutukan sarana, yakni kekuasaan. Karena itu, muncullah ide pembentukan partai politik. Selain sebagai sarana meraih kekuasaan, partai juga berfungsi mengawal secara politik gagasan tersebut. Dari sanalah lahir Partai SRI, dengan figure yang sama dengan SMI-Keadilan, yakni Ibu Sri Mulyani. Partai SRI akan mengawal Ibu Sri Mulyani menjadi calon presiden.
Kenapa memilih Sri Mulyani?
Menurut saya, sampai sekarang figur yang paling cocok dengan nilai-nilai yang kami anut hanyalah Ibu Sri Mulyani. Saya belum melihat ada figur lain yang bisa merepresentasi nilai-nilai seperti integritas, etika publik, kejujuran, ketegasan, dan mampu.
Setelah berdiri, apa yang pertama kali dilakukan Partai SRI?
SRI berdiri pada 2 Mei 2011. Setelah itu kami langsung dihadapkan pada UU Nomor 2 Tahun 2011, yang memberikan persyaratan berat terhadap partai politik. Karena itulah kami langsung ngebut. Alhamdulilah, popularitas Ibu Sri Mulyani cukup kuat di daerah-daerah, sehingga kami terbantu merekrut orang-orang.
Kebanyakan pengurus Partai SRI adalah akademisi, aktivis, dan wiraswasta. Bagaimana orang-orang yang tidak punya pengalaman politik praktis ini akan mampu mengelola partai?
Tidak berpolitik praktis bukan berarti tidak mengerti politik. Orang sering mengatakan kami masih hijau dalam politik, tapi masih hijau bukan berarti tidak mengerti politik. Kami paham betul bagaimana sebuah mesin politik bekerja. Justru kekuatan kami adalah belum tercemar kepentingan politik terlalu jauh. Kita memang berharap, motor penggerak partai adalah orang-orang yang tadinya bukan politisi, apalagi politisi kawakan. Jadi kami ini kumpulan orang-orang biasa, bukan selebriti politik yang terkenal.
Bagaimana pembangunan jaringan di daerah?
Jaringan itu terbentuk begitu saja karena popularitas Ibu Sri Mulyani yang kuat di daerah. Saya selalu menawarkan ke teman-teman daerah untuk membentuk cabang Partai SRI. Tawaran saya itu direspon luar biasa. Di daerah sebenarnya banyak pendukung Ibu Sri Mulyani. Setelah ada partai, jaringan pendukung ini terbentuk dengan sendirinya. Ibaratnya, saya berburu di kebun binatang. Jadi orang-orang yang dibutuhkan itu sudah ada, tinggal dikasih wadah saja melalui partai.
Sejauh mana jaringan partai telah terbentuk dan berapa jumlah anggota Partai SRI?
Kami sudah memiliki pengurus di 33 provinsi. Sekarang kami bergerak lebih jauh lagi ke kecamatan-kecamatan. Jumlah anggota sekarang sekitar 2000-anlah meski saya belum menghitung secara pasti.
Bagaimana strategi Partai SRI untuk menyiapkan calon anggota legislatif untuk parlemen?
Setelah selesai melakukan verifikasi, kami akan melakukan pelatihan-pelatihan kader, di daerah maupun pusat, supaya mereka siap terjun di parlemen dan siap secara profesional menjadi politisi. Jelas kami akan menyiapkan kader-kader kami untuk menghadapi pemilu legislatif. Saya kira waktu masih cukup panjang untuk mempersiapkan itu.
Pendanaan partai ini bagaimana? Apakah ada penyandang dana yang besar?
Pendanaan swadaya dari pengurus dan simpatisan. Teman-teman daerah bekerja sendiri dengan dana mereka. Sampai sekarang tidak ada penyandang dana yang besar. Makanya, kalau ditanya kasnya berapa, jawab kosong. Kalau kami punya dana besar, saya tidak kuatir untuk bisa membentuk partai. Kami harus berjibaku dan mengumpulkan semangat yang lebih.
Ada pendapat yang menyatakan Sri Mulyani hanya popular di kelas menengah, tidak mengakar di maysarakat bawah. Tanggapan Anda?
Saya harus garis bawahi bahwa itu anggapan, bukan fakta. Sampai sekarang belum ada fakta yang membenarkan anggapan hal itu. Yang saya temukan justru sebaliknya. Kami relatif terbantu dalam membentuk partai karena popularitas Ibu Sri Mulyani di daerah. Rata-rata pengurus kami kebanyakan justru orang-orang biasa. Itu menunjukkan tingkat popularitas Ibu Sri Mulyani yang tinggi. Selain itu, jangan lupa kelas menengah adalah agen perubahan. Kalau anda kuat di kelas menengah, Anda akan gampang menjangkau kelas bawah. Sebab kelas menengah inilah yang akan bekerja mencari dukungan dari kelas bawah.
Dalam hitung-hitungan politik, seberapa besar peluang Sri Mulyani bisa terpilih menjadi presiden?
Tanpa bermaksud sombong, saya melihat ada gerakan yang mendukung Ibu Sri Mulyani, yang dari hari ke hari kian besar. Saya sekarang juga sudah mulai mendapat limpahan orang yang mau aktif di partai dalam jumlah yang luar biasa. Saya sedang berpikir untuk mengelola dukungan itu menjadi energi untuk bisa memenangkan partai. Nanti Anda bisa melihat hasilnya. Saya kira cukup mengagetkan nanti.
Tapi Sri Mulyani juga mempunyai sejumlah lawan politik yang gencar menyerangnya. Bagaimana menghadapi tuduhan bahwa Sri Mulyani terlibat kasus Bank Century?
Dalam dunia politik, nggak mungkin tanpa ganjalan. Saya pikir, serangan itu wajar-wajar saja. Tapi tetap saja pendapat soal Bank Century itu merupakan pendapat partisan, bukan kebenaran yang harus kita pegang. Dalam kasus Bank Century, belum ada fakta yang menyatakan Bu Sri Mulyani terlibat. Bahkan saya bilang, Bu Sri Mulyani dalam kasus itu clean. Kalau tidak ada keyakinan itu, mana berani kami mengusung beliau.
Soal tuduhan bahwa kebijakan ekonomi Sri Mulyani berbau neoliberalisme?
Itu lebih tidak masuk akal lagi. Kalau neolib itu kan tidak suka subsidi. Tapi dalam masa Sri Mulyani jadi menteri, ada subsidi. Bahkan dalam tulisannya yang terakhir, beliau menyatakan bahwa subsidi harus diberikan tapi arus terarah. Jadi tuduhan neolib ini lebih merupakan serangan politik ketimbang fakta.
Tentang isu penggalangan dukungan oleh diplomat asing terhadap Sri Mulyani?
Itu juga jauh dari fakta. Kalau misalnya dibilang partai yang menggerakkan penggalangan dukungan itu, partai belum pernah berpikir soal itu. Dari sisi substansi, apa perlunya kita cari dukungan luar negeri? Kan pemilunya di Indonesia, yang milih orang Indonesia, bukan orang asing. Jauh lebih berarti orang-orang di pedesaan dan guru-guru di tempat terpencil. Selain itu, Ibu Sri Mulyani belum mendeklarasikan dirinya sebagai calon presiden. Bagaimana mungkin dia mau cari dukungan? Jadi menurut saya, itu cara orang menyerang secara politis ketimbang fakta.
Pernahkan berpikir fenomena Partai Demokrat pada 2004 akan juga terulang pada SRI?
Tentu itu menjadi inspirasi buat kita, tapi minus penzaliman dan melodrama, karena hal itu kan tidak dapat kita tiru. Mudah-mudahan Partai SRI bisa menjadi fenomena baru pada 2014.
Kenapa SRI memutuskan mengusung Sri Mulyani, padahal yang bersangkutan belum menyatakan kesediaan menjadi calon presiden?
Tentu saja kita berharap suatu saat Ibu Sri Mulyani akan menyatakan kesediaannya. Sampai hari ini kita tidak pernah dilarang Ibu Sri Mulyani untuk mencalonkan beliau. Tidak mungkin beliau tidak tahu aktivitas kami karena pemberitaannya sudah sampai ke media internasional. Kalau misalnya Bu Sri Mulyani tidak setuju, mungkin kami sudah disuruh stop.
Apakah sudah ada pembicaraan langsung dengan Sri Mulyani mengenai hal ini?
Pembicaraan langsung belum ada. Kami menghormati betul kontrak kerja yang dijalani Bu Sri Mulyani dengan Bank Dunia. Kan aturannya, selama masih bekerja di sana gak boleh berpikir tentang kerjaan lain. Partai SRI tidak mau menggerogoti hal itu.
Karena Sri Mulyani belum setuju dicalonkan, ada yang menyebut SRI menjual kucing dalam karung. Bagaimana komentar anda?
Justru Partai SRI dari awal mengumumkan akan mengusung Sri Mulyani. Dari awal kami memberitahu rakyat bahwa kami tidak akan menggunakan calon presiden sebagai alat bargaining atau alat dagang sapi setelah pemilu parlemen. Jadi justru kami tidak menjual kucing dalam karung. Kami sudah langsung buka karungnya. Inilah kenapa kami membicarakan calon presiden sejak awal. Selain itu, di dalam negara dengan sistem presidensial, kita tidak bisa lepas dari menonjolkan figur calon presiden.
Seandainya Sri Mulyani tidak mau dicalonkan menjadi presiden, apa yang akan dilakukan SRI?
Saya tidak mau berandai-andai. Tapi kami berkeyakinan, hal itu tidak terjadi.
read more
Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) didirikan di Jakarta 2 Mei 2011. Partai ini dilahirkan sebagai perahu untuk membawa Sri Mulyani Indrawati berlabuh sebagai pemimpin Indonesia 2014. Tiga orang pengurus partai yang ditampilkan disini adalah juga para aktivis Solidaritas Masyarakat Indonesia untuk Keadilan (SMI-Keadilan). Saat ini partai SRI sedang membentuk kepengurusan sampai tingkat kecamatan di 33 provinsi di Indonesia.
Damianus Taufan

Ketua Umum Partai SRI
“Pluralitas adalah syarat demokrasi, tidak ada kemajuan tanpa perbedaan. Maka nilai-nilai itulah yang harus kita suburkan dalam kehidupan sosial kita”
Prinsip ini yang dipegang teguh oleh D. Taufan, mantan aktivis mahasiswa, penggiat HAM, dan salah satu pendiri Partai Serikat Rakyat Independen (SRI). Lahir di Jakarta, 27 September 1967, Taufan adalah penggagas SETARA Institute, sebuah lembaga yang memperjuangkan nilai-nilai pluralisme di Indonesia.
Kepeduliannya terhadap masalah sosial bangsa ini dimulai sejak mahasiswa di Universitas Nasional Jakarta. Bersama puluhan mahasiswa lain dari berbagai kampus, Taufan ikut ditangkap saat demonstrasi menentang kenaikan tarif listrik di Gedung MPR/DPR Senayan tahun 1989.
Setelah itu, Taufan bergabung di Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia PBHI, sebagai Ketua Litbang. Ia pernah mengambil short course tentang HAM dari Canada Human Right Foundation, Montreal Canada. Taufan pun menempuh pendidikan formal tentang HAM, dengan gelar diploma di bidang Forensic Human Rights dari Groningen University, Belanda. Setelah itu, ia menempuh pendidikan pasca-sarjana Ilmu Politik dari Universitas Indonesia.
Taufan akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia politik praktis, dengan bergabung di Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) sebagai Wakil Sekjen. Jabatan terakhirnya adalah Ketua partai.
Sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Partai SRI, latar belakang Taufan sebagai aktivis serta pengalamannya menjadi pengurus partai politik akan sangat membantu Partai SRI menjadi kendaraan politik untuk mengusung Sri Mulyani Indrawati sebagai Calon Presiden 2014.
“Masyarakat Indonesia membutuhkan tokoh yang jujur, bersih, anti korupsi, dan beretika. SMI menginspirasi nilai-nilai sosial tersebut, sekaligus menjawab kebutuhan Indonesia di masa depan,” kata Taufan.
Yoshi Erlina

Sekretaris Nasional Partai SRI
Yoshi Erlina dilahirkan di Duri, Riau 26 Februari 1972. Ia mulai aktif berorganisasi ketika kuliah di Akademi Akuntansi Muhammadiyah Jakarta, dengan bergabung bersama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
Aktivitas di bidang organisasi sempat ditinggalkan karena kesibukannya sebagai seorang business woman. Namun batinnya terusik ketika kasus Bank Century yang melibatkan Sri Mulyani Indrawati muncul di tahun 2009. Yoshi merasa telah terjadi ketidakadilan dalam kasus ini, terutama ketika Panitia Khusus DPR-RI ‘mengadili’ SMI bagaikan seorang penjahat. ‘Kemarahan’-nya disalurkan dengan bergabung ke groups di jejaring sosial Facebook, yang mendukung integritas SMI.
Air matanya menetes ketika akhirnya Sri Mulyani memilih untuk meninggalkan tanah air dan bergabung ke World Bank. Namun integritas dan kejujuran Sri Mulyani terlanjur membuat Yoshi jatuh cinta, sehingga ia bertekad untuk membela Sri Mulyani sampai kapan pun. Alasan tersebut yang membuatnya tanpa berpikir dua kali bergabung menjadi salah satu pendiri gerakan Solidaritas Masyarakat Indonesia untuk Keadilan (SMI-Keadilan) yang dideklarasikan di Jakarta pada 14 Februari 2011.
Tidak berhenti sampai di situ, perempuan bersuara lantang ini kemudian bergabung ke Partai Serikat Rakyat Independen (SRI), sebagai Sekretaris Nasional. Di tengah kesibukannya mengurus perusahaan, dan membesarkan tiga buah hatinya, Yoshi masih punya waktu untuk hadir minimal tiga kali seminggu untuk mengurus partai.
Yoshi, yang hobby menulis dan membaca puisi ini, mengatakan hanya dengan cinta dan kasih sayanglah orang mau berkorban untuk membela negaranya. Ia yakin, cinta dan kasih sayang itu ada pada partai SRI yang berisi orang-orang yang mau berjuang dan berkorban demi Indonesia.
“Cinta akan membawa Sri Mulyani kembali ke tanah air, banyak cinta yang menunggu kedatangan Sri Mulyani, dan demi cinta ini mari kita bangun Indonesia yang baru di bawah kepemimpinan Sri Mulyani Indrawati,” kata Yoshi.
Susy Rizky

Bendahara Umum Partai SRI
Dari aktivis dunia maya, sekarang ia menjadi aktivis dunia nyata. Susy Rizky Wiyantini adalah nama yang tidak asing lagi di sebuah groups di jejaring sosial Facebook yang mendukung Sri Mulyani Indrawati. Groups ini lahir pada saat “pengadilan politik” terhadap Sri Mulyani oleh Pansus DPR berjalan. Susy adalah salah satu penggerak di groups tersebut, yang beranggotakan ratusan ribu orang dari seluruh Indonesia, bahkan dari luar negeri. Kemarahannya terhadap ketidakadilan yang dialami Sri Mulyani dalam Kasus Bank Century, membuat ibu rumah tangga yang tadinya sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan aktivitas politik ini, tergerak.
Tidak berhenti sampai disitu saja, perempuan kelahiran Jakarta 2 Februari 1966 ini juga menjadi salah satu deklarator Solidaritas Masyarakat Indonesia untuk Keadilan (SMI-Keadilan). Tidak tanggung-tanggung, ibu satu anak yang murah senyum ini dengan penuh semangat bergabung di Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) dan diberi kepercayaan sebagai Bendahara Umum.
Kepedulian Susy untuk ikut berjuang membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, dilatarbelakangi masa kecilnya yang dihabiskan di lingkungan kumuh, di kawasan Kalilio-Senen. Copet, maling, dan pelacur cilik adalah teman masa kecilnya. Setelah berpuluh tahun berlalu, kondisi mereka tetap sama, dan anak-anak mereka pun berprofesi sama seperti orang tuanya. Hanya 10 persen yang bisa lolos dari jeratan kemiskinan dan memperbaiki taraf hidup keluarganya.
“Saya merasa ini kesalahan Pemerintah, karena tidak bisa kasih peluang buat mereka untuk hidup lebih baik. Untuk sekolah, dulu teman-teman saya harus jadi tukang semir, buruh cuci, jualan kue keliling kampung. Padahal di usia mereka anak-anak lain masih di timang-timang orang tuanya. Kondisi ini ada di kota besar, bagaimana di daerah-daerah terpencil?” kata Susy.
Alumnus FISIP Universitas Indonesia ini berpendapat bahwa sampai hari ini, situasi tidak banyak berubah. Penguasa asyik memikirkan diri sendiri, dan lupa untuk membantu kaum yang tertindas. Peraturan dibuat hanya untuk kepentingan sesaat, bukan untuk kepentingan orang banyak dan untuk masa yang panjang. Kasus Bank Century semakin memastikan pendapat pribadinya.
“Saya ingin keadaan berubah. Untuk saat ini, Sri Mulyani Indrawati adalah sosok yg tepat untuk melakukannya,” kata Susy.
read more

Logo Partai SRI
Partai Baru. Semangat Baru.
Partai Modern tapi Merakyat.
Partai Orang Biasa dengan Komitmen Luar Biasa.
Kami perkenalkan Partai Serikat Rakyat Independen (Partai SRI).
Logo partai berupa huruf kapital SR dengan gambar Sapu Lidi dan tulisan SERIKAT RAKYAT INDEPENDEN.
Sapu lidi mempunyai makna khusus bagi masyarakat Indonesia. Sapu lidi terdiri atas beberapa batang lidi. Setiap batang lidi berciri lurus dan tajam.
Lurus bisa diartikan sifat yang jujur. Orang disebut lurus kalau sikapnya mencerminkan satu kata dan perbuatan. Orang seperti ini disebut orang yang berintegritas. Orang jujur juga dikenal sebagai orang yang bersih. Bukan bersih sendiri tetapi bisa mempengaruhi bahkan memaksa orang lain untuk ikut bersih.
Tajam bisa diartikan cerdas. Lidi bisa dipakai menusuk daging untuk membuat sate. Ketajamannya bisa menembus daging yang tebal. Orang yang cerdas, dengan ketajaman berpikirnya, bisa menembus hambatan berpikir konvensional. Mereka terbiasa berpikir kreatif dan jauh ke depan.
Batang-batang lidi kalau diikat jadi satu akan menghasilkan sapu lidi.
Sapu lidi menggambarkan persatuan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Dengan bersatu, kita bisa menghasilkan kekuatan yang lebih besar atau SINERGI. Sebatang lidi mudah dipatahkan tapi sapu lidi tidak. Lidi-lidi bisa bersatu karena ada pengikatnya. Tanpa pengikat yang kokoh, lidi-lidi akan berserakan, tercerai berai. Orang-orang biasa yang bergabung dalam Partai SRI menjadi kekuatan baru. Kekuatan ini dihasilkan oleh ikatan kepentingan yang sama dan oleh pengikat yang sama yaitu sosok Sri Mulyani Indrawati sebagai ikon bagi gerakan ini.
Sapu lidi juga menggambarkan kemandirian. Sapu lidi dengan ikatan yang kuat akan kokoh dan bisa berdiri tegak. Ini melambangkan kemandirian partai dari segala campur tangan kepentingan yang tidak sejalan dengan visi misi partai.
Sapu lidi menggambarkan kesederhanaan. Sapu lidi benda yang sederhana. Dikenal luas di masyarakat Indonesia, dari desa sampai kota, dari gubuk sampai rumah mewah. Tidak perlu sambungan listrik untuk bisa menggunakan sapu lidi.
Sapu lidi adalah alat untuk membersihkan yang kotor-kotor. Di beberapa daerah sapu lidi malah digunakan untuk mengusir setan. Bagi kita, sapu lidi akan digunakan untuk membersihkan politik kotor dan aksi para koruptor. Dengan sapu lidi gerakan bebersih dan berbenah akan dimulai. Kita harus bisa mewujudkan mimpin kita Indonesia Bersih.
Menggenggam sapu lidi berarti siap bekerja bersama pemimpin baru. Kita butuh pemimpin yang bisa memotivasi kita, yang bisa memimpin kita untuk ikut bekerja. Bukan membiarkan pemimpin yang mengerjakan semuanya sendirian. Pemimpin yang memberi inspirasi dan partisipasi publik menjadi kunci keberhasilan Partai SRI.
Selamat bekerja.
read more

Logo Partai SRI
Saya bukan pengurus dan anggota Partai Serikat Rakyat Independen (SRI), tapi saya sangat menyukai asas Partai SRI yakni REPUBLIKANISME BERBINGKAI PANCASILA! Mengapa? Konsep Republikanisme sepengetahuan saya adalah salah satu konsep tertua dalam sejarah ide politik yang untuk Indonesia, secara gemilang berhasil dihadirkan oleh para pendiri bangsa seperti Soekarno, Hatta, Syahrir termasuk Tan Malaka.
Republikanisme Berbingkai Pancasila
Kita ingat bahwa para pejuang awal menyebut diri mereka sebagai ‘Kaum Republiken’ dan nama Indonesiapun didahului dengan predikat Republik Indonesia. Republikanisme berasal dari istilah latin res publica, yang oleh Cicero disatukan menjadi Republic. Secara mendasar res publica atau republic berarti ‘hal-hal publik’ atau “hal-hal menyangkut kemaslahatan umum’. Dengan demikian Republikanisme secara sederhana dapat diartikan sbg paham yang mau menekankan politik sebagai upaya untuk mencapai kemaslahatan umum!
Itu sebabnya para pejuang dulu menolak penjajahan dan penindasan karena penjajahan hanya menuruti kepentingan golongan tertentu bukan kemaslahatan umum! Persis sebagaimana orang Romawi membedakannya dengan res privata (hal-hal privat seperti urusan biologis, rumah tangga dan perang).
Asas Berbingkai Pancasila juga sangat baik karena bukankah sekarang Demokrasi Indonesia kembali membutuhkan Pancasila? Dengan Pancasila kita mengakui peran spiritualitas, humanitas, persatuan demokrasi dan keadilan! Di dalam Pancasila kita diundang untuk makin mempertinggi keluhuran kita, persatuan bangsa dalam kemanusian, demokrasi dan keadilan!
Atheisme dan Komunisme
Mengenai sikap Partai SRI terhadap Atheisme dan Komunisme; dengan secara tegas partai ini menyebut Republikanisme Berbingkai Pancasila sebagai asasnya. Maka sesungguhnya jelas apa sikap Partai SRI terhadap Komunisme (dan atheisme).
Partai SRI jelas bukan partai yang mengusung komunisme dan pandangan atheisme (pertanyaan ini sedikit menarik dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa sebagian besar orang di luar sana justru menuduh Partai SRI kepanjangan Neolib). Namun demikian perlu juga diingat bahwa sebagai warga dalam negara dan masyarakat demokratis, di mana konstitusi kita sendirinya secara tegas mengakomodasi hak-hak asasi manusia.
Saya kira dapat saya perkirakan bahwa Partai SRI pasti menghargai keputusan warga negara Indonesia lain untuk memilih paham dan ideologi yang sesuai berdasarkan hak-hak dan kewajiban konstitusionalnya masing-masing. Sebagai organisasi yang tumbuh dalam alam demokratis dan dalam masyarakat Indonesia yang secara antropologis sangat kental dengan relijiusitas, saya rasa Partai SRI pasti mau menjunjung sikap religius yang mendorong pemekaran martabat manusia dan memperkuat solidaritas. Kalau boleh menambahkan -soal komunisme- dengan sedikit buka sejarah, salah satu pendiri Partai SRI seperti Rahman Tolleng, pendiri SMI Keadilan seperti Goenawan Mohammad justru dulu dikenal sebagai aktivis angkatan 66 garda depan yang menentang PKI.
Tiga Hal Dalam Organisasi Politik
Sekadar sharing. Sejauh yang saya pahami apabila kita hendak berjuang bersama dalam suatu organisasi dengan tujuan politik sebagai kemaslahatan umum kita membutuhkan tiga hal.
Yang pertama adalah Kejujuran Pada Diri Sendiri. Kejujuran pada diri sendiri penting untuk memeriksa motivasi dan tujuan kita. Sekaligus juga untuk memelihara keterbukaan dengan yang lain.
Kedua adalah Kehendak Untuk Bersatu, sekalipun kita jujur tapi kalau kita tidak memiliki kehendak untuk bersatu dengan yang lain tetap akan sulit. Nanti kita cenderung hanya mencari-cari perbedaan dan perselisihan, karena memang secara mendasar kita tidak berkehendak untuk bersatu. Tapi kalau kita memang punya kehendak untuk bersatu apapun perbedaan, betapapun tidak nyamannya keadaan kita tetap akan bertahan dalam kebersamaan.
Ketiga, Disiplin. Disiplin yang menopang kebersamaan terus bertahan dan tumbuh menjadi besar! Semoga ini dapat bermanfaat buat semua teman-teman yang hingga hari ini masih bersimpati kepada keteladanan Sri Mulyani Indrawati.
Selamat bekerja dan selamat menjalankan Ibadah Puasa bagi yang menjalankan.
read more